Kabupaten Solok memang tidak masuk dalam kategori daerah tertinggal, namun sejumlah nagari di Kabupaten Solok secara geografis banyak yang letaknya tersuruk, jauh dari pusat kecamatan, atau jauh dari jalan utama baik jalan negara atau jalan provinsi, sehingga membuatnya kurang berkembang dan masih belum pas untuk dikatakan nagari maju. Salah satu nagari itu adalah Nagari Aie Luo, sebuah nagari yang tersuruk di bagian timur Kecamatan Payung Sekaki. Jarak dari Sirukam yang menjadi pusat Kecamatan Payung Sekaki tidaklah jauh, sekitar 10 km saja, namun bentang alam yang harus dilewati penuh tantangan, mulai menyusuri punggung perbukitan, menyusuri jalan sepanjang alur sungai, rawan longsor, sampai dengan kondisi jalan yang belum sepenuhnya baik, membuat daerahnya menjadi tidak aksesibel.
Memang terdapat kriteria yang mendasari sebuah nagari itu masuk dalam kategori dalam nagari mandiri, maju, sedang berkembang, tertinggal, atau sangat tertinggal. Setidaknya, dari akses transportasi, akses ke pusat layanan kesehatan, dan akses terhadap pendidikan, sebuah nagari sudah dapat diperkirakan masuk dalam kategori mana. Dilihat dari aspek itu saja, Nagari Aie Luo masih perlu berjuang dan diperjuangkan untuk masuk dalam kategori nagari maju. Hal yang paling mendasar di Nagari Aie Luo adalah bentang alam atau topografi dan letak geografisnya yang kurang mendukung untuk maju dan berkembang seperti kebanyakan nagari di Kabupaten Solok.

Jalan yang butuh perbaikan di punggung perbukitan antara Nagari Supayang dan Aia Luo
Nagari Air Luo terletak di ujung kecamatan, dan jalannya berakhir di Nagari Air Luo. Berbatasan dengan Kabupaten Sijunjung di sisi timur, namun belum ada jalan memadai yang menghubungkannya, masih jalan setapak. Ditambah lagi jarak antar jorong yang relatif jauh. Terdapat pula dua kawasan permukiman penduduk yang terpisah oleh jarak sejauh 8 km yang dipisahkan oleh bukit dan hutan.
Untuk menjangkau Nagari Aie Luo, ada dua alternatif jalan. Alternatif pertama sekaligus jalan utama adalah dari Sirukan pusat Kecamatan Payung Sekaki. Melalui rute ini, kita harus melewati Nagari Supayang. Alternatif kedua dari Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, dimana kita harus melewati sejumlah nagari di kecamatan ini seperti Taruang-Taruang, Bukit Bais, dan Sungai Durian. Medan jalan keduanya sama saja, melintasi perbukitan, ditambah kondisi jalan yang tidak sepenuhnya bagus.
Pilihan utama menuju Nagari Aie Luo adalah dari Sirukam dan Supayang. Selepas kawasan permukiman di Nagari Supayang, kita harus menyusuri punggung perbukitan yang kebanyakan tandus, dan pada beberapa tempat ditanami dengan tanaman karet. Ruas jalan di punggung perbukitan ini sebenarnya indah, hanya saja nyaris tidak ditemukan rumah penduduk di sepanjang jalan ini hingga sampai di Nagari Aia Luo. Pemandangan indah tersaji dari ketinggian ini, dimana terhampar sawah di dasar lembah, alur sungai Batang Supayang, bahkan padang alang-alang yang luas juga menampilkan keindahan tersendiri. Goresan pematang sawah, hijau dan kuningnya tanaman padi, dikelilingi bukit, padang alang-alang, dan tak jauh dari hamparan mengalir sungai Batang Supayang. Sebuah pemandangan indah menuju Nagari Aie Luo.
Selain daerah pesawangan, ruas jalan menuju Nagari Aie Luo penuh tantangan, naik turun bukit, ditambah kondisi jalan yang rusak. Bagi Pemerintah Kabupaten Solok sendiri, tentunya butuh biaya yang besar untuk membuat jalan ke Aie Luo menjadi bagus mulus beraspal hotmiks. Padahal kalau dihitung-hitung, tidaklah ekonomis, membangun jalan rancak sejauh sekitar 10 km hanya untuk memberi akses bagi penduduk sebanyak 1.078 jiwa (jumlah penduduk Nagari Aie Luo kondisi 31 Desember 2019) dengan 330 KK. Namun, pembangunan di negara ini tidaklah sekedar pertimbangan ekonomi semata, tetapi juga dalam rangka demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jalan di perbukitan yang mendominasi wilayah Aia Luo
Belum lagi jarak yang jauh dari pusat Kecamatan Payung Sekaki, topografi Nagari Aie Luo juga kurang menguntungkan. Kawasan nagari didominasi oleh perbukitan. Kita tahu, bahwa membangun di daerah penuh bukit itu membutuhkan biaya yang besar dibandingkan kawasan yang relatif datar. Kondisi inilah yang mungkin membuat, ketika nyaris sebagian besar nagari di Kabupaten Solok sudah diaspal hotmiks, Aie Luo masih berjibaku dengan buruknya prasarana jalan.
Kawasan permukiman Nagari Aia Luo berada dalam lembah perbukitan yang sempit. Lahan persawahan sangat terbatas, dan perladangan hanya dapat dibangun di daerah perbukitan. Kondisi ini sungguh kontras jika dibandingkan dengan luasnya persawahan pada kebanyakan nagari-nagari di Kabupaten Solok. Di samping dataran yang terbatas, kawasan permukiman Nagari Aia Luo terbagi atas dua kawasan permukiman. Satunya di kawasan induk nagari tempat berlokasinya sejumlah fasilitas layanan pemerintahan dan pendidikan, dan satunya lagi kawasan permukiman di Jorong Kipek. Hanya saja, jarak kedua lokasi permukiman ini dibatasi oleh kawasan perbukitan sepanjang 8 km. Bisa kita bayangkan, betapa repotnya penduduk Jorong Kipek untuk mendapatkan layanan di tingkat nagari saja, belum lagi layana di tingkat kecamatan dan kabupaten. Jauh ditambah lagi dengan kondisi jalan yang buruk.
Tidak hanya akses dan kualitas jalan, pemenuhan kebutuhan dasar lainnya seperti pendidikan dan kesehatan, tentunya menjadi masalah bagi Nagari Aie Luo. Dengan kondisi dan letak Nagari Aie Luo, banyak guru yang tidak akan betah mengajar di sini. Demikian pula tenaga medis dan paramedis. Jangkankan bicara kualitas, akses mendapatkan layanan dasar saja sudah syukur terpenuhi.

Terbatasnya dataran di Nagari Aia Luo
Nagari Aia Luo adalah gambaran nagari-nagari yang kurang beruntung karena faktor geografi dan topografi. Faktor topografi yang didominasi perbukitan membuat tidak banyak lahan yang dapat dijadikan sebagai kawasan budidaya baik itu untuk permukiman maupun untuk pertanian. Mau tidak mau, penduduk hanya dapat memanfaatkan lahan yang tersedia. Sementara untuk merambah perbukitan yang akan dijadikan ladang, tentu saja bak makan buah simalakama. Jika bukit tak dijadikan ladang, darimana tambahan sumber pendapatan akan didapatkan? Jika dijadikan ladang, berarti rimba mesti ditebang, alamat air akan berkurang di musim kemarau dan berpotensi longsor di musim hujan. Begitulah dilema yang mungkin dirasakan sebagian besar masyarakat Nagari Aia Luo. Jika nagari-nagari yang memiliki lahan datar yang luas, bolehlah ditanami kelapa sawit dan karet yang mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat, namun di Aia Luo, dimanakah sawit dan karet akan ditanam?

Pasar Aia Luo
Sudahlah topografi yang berbukit, nasib kurang mujur ditambah lagi dengan lokasi nagari yang tersuruk jauh dari jalan lintas utama, baik itu dari jalan nasional maupun jalan provinsi. Jalan nasional terdekat dari Nagari Aia Luo berada di Sungai Lasi, jalan nasional yang menghubungkan Padang, Solok, dan Jambi. Sedangkan jalan provinsi terdekat yang bisa diakses adalah Jalan Alahan Panjang – Solok via Kubang Nan Duo. Karena tersuruk, siapa yang akan datang ke Aia Luo kalau bukan mereka yang punya keperluan saja. Tidak seperti nagari-nagari yang berada di jalan lintas, semua orang pasti melewatinya walau hanya sekedar lewat saja.
Untuk mengurangi ketersurukan Nagari Aia Luo, salah satunya dapat dilakukan dengan mempelebar sekaligus memperbaiki kualitas jalan yang menghubungkan Sirukam dengan Sungai Lasi, sehingga dapat menjadi jalan alternatif bagi masyarakat Kabupaten Solok bagian selatan seperti Kecamatan Payung Sekaki, Lembang Jaya, atau Lembah Gumanti menuju wilayah bagian timur Sumatera Barat seperti Sawah Lunto dan Muaro Sijunjung. Sehingga orang Alahan Panjang yang ingin menuju Sawah Lunto tidak perlu lagi melewati Kota Solok, tapi bisa menempuh jalan alternatif ini. Dengan terbangunnya jalan ini, sejumlah nagari di dua kecamatan seperti Nagari Supayang, Aia Luo, Sungai Durian, Bukik Bais, dan Taruang-Taruang dapat bergerak lepas dari ketertinggalannya. Bagi Nagari Aia Luo, walaupun tidak dilewati jalur alternatif tersebut, paling tidak masyarakat Nagari Aia Luo semakin pendek jarak dan waktu untuk mencapai jalan utama.
Untuk keluar dari ketertinggalan, disamping pembangunan jalan dan mempermudah akses masyarakat terhadap layanan kebutuhan dasar. Nagari Aie Luo butuh perhatian dan sentuhan khusus baik bagi Pemerintah Kabupaten Solok maupun Provinsi Sumatera Barat. Untuk sektor pendidikan dan kesehatan misalnya, tidak hanya melengkapi sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan, tetapi juga diperhatikan kualitas yang diterima masyarakat Aie Luo. Agar para pendidik, tenaga medis atau paramedis betah bertugas di sini, perlu tunjangan khusus yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang ditempatkan di daerah maju. Dengan demikian pemerintah baru dapat menuntut kualitas dari mereka. Yang penting diperhatikan adalah Aie Luo butuh perhatian dan sentuhan menyeluruh untuk mendorongnya berkembang menjadi nagari maju.

Peta jalan di sekitar Aie Luo
Saat ini, Aia Luo masih masuk dalam kategori nagari tertinggal di Kabupaten Solok, susah dan jauh untuk dijangkau. Namun jangan salah, Nagari Aia Luo sudah pernah dikunjungi oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada abad ke-19. Ada sebuah catatan Kolonial Belanda tentang Aia Luo. Nagari Aia Luo, masuk dalam sebuah ekspedisi yang dinamakan “Door de Leden der Sumatra – Expeditie” pada tahun 1877-1879. Tim ekspedisi itu telah mencatat beberapa varietas padi di Nagari Aie Luo yakni anak ulek, bungo giliang, gando sariak, harun nasi, karah, labek, liek nan gadang, urek baringin, sirandah cupak, tambu ruok, dan carai. Begitu pun mereka mencatat varietas ketan atau pulut atau sipuluik yang ditanam masyarakat Nagari Aie Luo 140 tahun yang lalu, sipuluik gundo, sipuluik mato harimau, sipuluik suri, dan sipuluik siarang. Apakah Dinas Pertanian kita atau pihak terkait punya data seperti ini ya? Entahlah.

Balai Adat Nagari Aia Luo
Walaupun tersuruk jauh, Nagari Aia Luo tetap menjaga adat-istiadatnya. Sebagai sebuah nagari, ia memiliki sebuah balai adat sebagai pertanda bahwa wilayah ini sebuah teritorial yang bernama Nagari Aia Luo. Untuk bidang ekonomi, Aia Luo memiliki sebuah pasar yang kecil, maklum penduduknya juga sedikit sehingga belum butuh pasar yang luas. Walau tersuruk, denyut kehidupan tetap berjalan di Nagari Aia Luo. Ada yang penasaran? Silahkan berkunjung ke Nagari Aia Luo. Tentu saja, pastikan dulu cuaca dan kondisi kendaraan sebelum menuju Nagari Aia Luo.
Oleh: Bimbi Irawan
Peneliti Rancak Publik
@Cerita perjalanan ke Nagari AIE LUO
0 Komentar