Padang, 26 Mei 2025 — Dalam ikhtiar merawat warisan budaya Minangkabau dan menjadikannya relevan bagi generasi hari ini, Rancak Publik bekerjasama dengan STEVA, menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Dendang Bagurau” pada Jumat malam, 23 Mei 2025.
Berlokasi di STEVA, sebuah kafe kreatif di kawasan Kurao Pagang, Padang, acara ini menghadirkan suasana yang tidak biasa. Kafe yang lazimnya memutar musik modern akustik dan pop, malam itu menjadi ruang yang hidup dengan suara saluang, petuah bersyair, dan gurauan khas Minangkabau.
Empat nama besar dari ranah seni tradisi Minang, yakni Cik Indun, Zulmasdi, Tek Lis, dan Mak Hasan, tampil dalam format pertunjukan lesehan yang hangat. Mereka menghidangkan dendang, bagurau, dan syair penuh makna yang dahulu akrab dalam kehidupan masyarakat Minang, namun kini mulai menghilang dari ruang-ruang publik kita.
Bagi Rancak Publik, kegiatan ini adalah bentuk konkret dari misi: memulihkan keterhubungan masyarakat dengan akar budayanya melalui pemanfaatan ruang-ruang publik non-formal. Tidak harus gedung kesenian atau aula resmi, budaya dapat (dan harus) hadir kembali di tempat yang sehari-hari dikunjungi masyarakat, seperti kafe, taman kota, hingga warung kopi.
“Ruang publik hari ini terlalu sering diisi oleh budaya populer dan konsumerisme. Ini adalah cara kami menghidupkan kembali tradisi dalam format yang relevan dengan generasi hari ini. Kami ingin menunjukkan bahwa budaya lokal pun bisa hidup dan menarik, asalkan tersedia ruang di tengah masyarakat,” ujar Tri Wahyuni Oktanita, Direktur Rancak Publik. “Dendang Bagurau bukan sekadar nostalgia, tapi upaya mengajak generasi muda merasakan hangatnya tradisi yang dulu hidup dalam keseharian masyarakat kita.”
Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan tetapi juga membuka jalan bagi kolaborasi antara komunitas budaya dan pelaku ruang kreatif urban.
“Dendang Bagurau” hanyalah satu dari banyak program yang tengah disiapkan oleh Rancak Publik untuk mendorong lahirnya ruang-ruang kebudayaan alternatif yang ramah, terbuka, dan membumi. Di tengah cepatnya arus globalisasi, Rancak Publik percaya bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan lewat dokumentasi ia harus dihidupkan, dipentaskan, dan dirayakan bersama.
0 Komentar